Artikel dengan Tag Berita Halaman 1 dari 8

Harga Emas Ditutup Naik di Akhir Pekan

Harga Emas Dunia ditutup naik

Harga Emas Tergelincir Akibat Naiknya Dolar AS

Harga emas dunia kembali turun karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran akan pernyataan Federal Reserve soal suku bunga.

Dikutip dari Liputan 6, dolar tercatat menguat terhadap mata uang lainnya. Ditambah data ekonomi AS yang solid, hal ini membuat investor semakin yakin jika The Fed segera menaikkan suku bunganya.

Sebelumnya, Kepala The Fed Janet Yellen pernah mengatakan mengatakan jika bank sentral akan menaikkan suku bunga pada tahun ini juga jika pemulihan ekonomi terus berlanjut.

Ekspektasi kenaikan suku bunga di bulan-bulan mendatang membuat harga emas dunia berada dalam posisi terendah dalam lima tahun belakangan ini.

Menkeu: Berdasarkan Data Rupiah Lemah Bikin Surplus Anggaran

Seperti kita ketahui, belakangan mata uang rupiah terus melemah terhadap dollar AS dan bahkan ada yang memprediksi akan tembus Rp. 25.000 per dolar amerika.


Menteri Keungangan Bambang PS Brodjonegoro bersyukur mata uang rupiah melemah terhadap mata uang dollar amerika. Menurut Bambang, dengan lemahnya rupiah, justru akan menambah surplus anggaran seperti dikutip dari Kompas.
Nilai tukar rupiah yang stabil di kisaran Rp 13.300 per dollar AS justru disyukuri oleh Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro. Menurut Bambang, rendahnya nilai tukar ini justru akan menambah surplus anggaran.

Hal tersebut disebabkan saat ini pemerintah sudah tidak memberi subsidi pada bahan bakar minyak (BBM). Sebagaimana diketahui, lebih dari separuh kebutuhan BBM domestik didatangkan dari impor.

Rendahnya nilai tukar rupiah bisa berbahaya bagi defisit anggaran jika BBM-nya masih banyak mendapatkan subsidi dari APBN. “Tahun ini karena subsidi BBM-nya sudah tidak ada, kalau ada pelemahan rupiah kita tidak mengalami pelebaran defisit. Malah surplusnya tambah,” kata Bambang dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (3/7/2015).

Bambang menjelaskan, surplus anggaran tersebut berasal dari tambahan penerimaan seperti ekspor minyak dan gas bumi serta pertambangan. Ekspor komoditas tersebut dilakukan dalam bentuk dollar AS. Memang, bunga utang pemerintah akan meningkat.

Namun, dia memastikan bahwa peningkatan penerimaan dari sektor migas dan pertambangan akan lebih besar dari peningkatan bunga utang pemerintah yang harus dibayar. “Jadi ujungnya di budget, surplus. Saya tidak bisa mengarang karena ini data. Dollar melemah justru surplus di anggaran bertambah,” kata Bambang.

Namun demikian, dia tidak menyebut berapa surplus anggaran yang diperoleh dari pelemahan rupiah.
Yang menarik, walaupun menyebutkan berdasarkan data Menkeu masih belum berani menyebut angka surplus itu berapa. Jika berdasarkan data, Menkeu seharusnya perlu menyebutkan berapa angka surplus tersebut.

Rupiah Dekati Rp. 13.400, Diprediksi Sentuh Rp. 25.000

Saat ini nilai tukar mata uang rupiah terus mengalami keterpurukan, bahkan diprediksi akan tembus Rp. 25.000 per dolar. Menurut OJK tembus Rp. 15.000 per dolar Amerika saja bisa menghantam lima bank, apalagi lebih tinggi.
Makin Terpuruk, Rupiah Dekati Rp 13.400 Per Dollar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada awal perdagangan, Senin (8/6/2015), makin terpuruk hingga titik terendah dalam 17 tahun terakhir. Di pasar spot, Senin pagi ini, seperti ditunjukkan data Bloomberg, mata uang Garuda ini dibuka melorot ke posisi Rp 13.382 per dollar AS dibanding penutupan sebelumnya, yakni 13.290.

Rupiah pada awal pekan ini masih dibayangi tekanan pelemahan. Sentimen internal maupun eksternal siap menekan rupiah lebih dalam. Sumber: Kompas
OJK: Jika Rupiah Sentuh Rp 15.000, Lima Bank Nasional Terhantam

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, pelemahan nilai tukar rupiah hingga level Rp 15.000 per dollar AS akan menghantam permodalan lima bank nasional.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan OJK Irwan Lubis mengatakan, penyataan tersebut didasarkan pada hasil stress test yang dilakukan OJK terhadap perbankan di Indonesia, tetapi Irwan enggan menyebutkan nama sejumlah bank tersebut.

"Depresiasi rupiah terhadap dollar AS jika sampai Rp 15.000 per dollar AS akan meng-hit (menghantam) permodalan satu hingga lima bank nasional," ujar Irwan saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (12/3/2015). Sumber: Kompas
Ada Motif Apa Ekonom Singapura Sebut Rupiah Bisa Rp25.000?

Ada apa ekonom Singapura menyarankan strest test perbankan untuk nilai tukar rupiah hingga Rp25.000 per dolar AS? Apakah ada motif lain di balik itu?

"Angka itu (Rp25.000) dari kisaran saat ini Rp13.000-an tidak jauh. Jangan berpikir bahwa kita baik-baik saja," kata ekonom dari Nanyang Business School Singapura Lee Boon Keng di sela-sela seminar bertajuk Indonesia Financial and Economic Conference, Kamis (28/5/2015).

Untuk itu, menurut dia, level nilai tukar yang dipatok dalam stress test Bank Indonesia (BI) seharusnya bisa dinaikkan hingga Rp25.000 karena Rp15.000--seperti yang saat ini berlaku--tidak cukup menggambarkan kesiapan sistem keuangan Indonesia dalam menghadapi krisis.

Dia menekankan, perekonomian Indonesia harus bersiap menghadapi hal-hal di luar ekspektasi untuk meminimalisasi efek guncangan yang diakibatkan oleh pembalikan dana akibat pengaruh kondisi moneter global. Sumber: bisnis.com

Buruknya Data Pekerjaan Amerika Menguatkan Harga Emas

Emas kembali berada diatas angin karena laporan pekerjaan AS lemah yang dirilis selama liburan akhir pekan memberikan sejumlah besar dukungan terhadap logam mulia.

Berdasarkan Kontan harga emas sempat menguat pada level 1.218,60 dollar AS per ounce.

Adanya laporan yang dirilis selama liburan akhir pekan oleh Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan penambahan penggajian pekerja pada Maret yang hanya 126.000. Angka ini jauh lebih buruk dari yang diperkirakan setelah kenaikan 264.000 pada Februari dan 201.000 pada Januari. Dua bulan sebelumnya direvisi turun gabungan 69.000.

Emas dan dollar biasanya bergerak berlawanan arah dimana jika dollar naik harga emas akan turun karena emas yang diukur dengan dollar menjadi lebih mahal bagi investor.

Perak sendiri sempat menguat 2,45% dan berada pada level 17,11 dollar AS per ounce. Sedangkan Platinum berada pada 1.180,40 dollar AS per ounce.

Harga Emas Diperkirakan Menguat di Kuartal Kedua 2015

Morgan Stanley memprediksi harga berbagai jenis logam termasuk emas akan mulai bangkit di kuartal II 2015. Harga emas terus tertekan pada kuartal sebelumnya karena membaiknya ekonomi Amerika Serikat (AS) yang membuat nilai tuka mata uang dolar AS menguat.

Berdasarkan Liputan6, Morgan Stanley menilai masih akan ada penyebab harga logam mulia menguat karena faktor situasi kondisi di Benua Eropa. Perdebatan mengenai utang Yunani adalah salah satunya.

Tidak hanya Eropa, tingkat konsumsi emas oleh masyarakat India juga akan menopang naiknya harga emas.

Secara keseluruhan Morgan Stanley memperkirakan harga emas rata-rata berada di level US$ 1.185 per ounce. Prediksi harga emas oleh Morgan Stanley tersebut merupakan prediksi harga emas paling pesimis jika dibandingkan dengan prediksi-prediksi laporan lainnya.

Sebagai contoh, CPM Group memperkirakan walaupun harga emas akan masih cenderung melemah, namun secara rata-rata akan berada di angka US$ 1.208 per ounce, lebih tinggi dibandingkan prediksi Morgan Stanley.

Sementara itu, Mac Neil Curry melihat kemungkinan harga emas jauh lebih tinggi dari kedua laporan sebelumnya yaitu sekitar US$ 1.300 per ounce.

Harga Emas Dunia Pekan Ini Naik 4,67 Persen

Harga emas terus naik sepanjang sepekan lalu sebesar 4,67% dan ditutup di level $1.280,30 per ounce seperti dikutip dari Kitco.

Kenaikan tersebut merupakan kenaikan dalam sepekan yang terbesar dalam 18 bulan terakhir.

Harga emas dunia naik karena adanya kekhawatiran pasar terkait ekonomi global khususnya Eropa terutama terkait dengan kebijakan mengejutkan dari Bank National Swiss (SNB).

Berdasarkan Kontan, SNB mengumumkan dua kebijakan baru, yaitu mencabut batas bawah nilai tukar franc 1,2 per euro dan menurunkan bunga simpanan dari minus 0,25% menjadi minus 0,75%.

Bloomberg mencatat, ketertarikan terhadap permintaan emas per 15 Januari meloncat 5,6%. Angka ini merupakan angka tertinggi sejak Oktober 2009.

Bank sentral Eropa (ECB) juga akan mengumumkan keputusan perluasan stimulus dan diduga akan mengambil kebijakan quantitative easing (QE).

Sementara itu, faktor lainnya yang sedikit banyak mempengaruhi harga emas saat ini adalah harga minyak saat ini terus menenggelamkan prospek inflasi global serta Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve berjanji tidak akan menaikkan bunga acuan sampai akhir April 2015 dan kian dekatnya Imlek dimana diharapkan adanya kenaikan permintaan emas terjadi di Cina.

Di dalam negeri, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) per hari Jumat 16 Januari 2015 logam mulia pecahan 1 gram naik 2,22% menjadi Rp 553.000. Dalam sepekan, emas Antam naik 2,98% dari posisi Jumat sebelumnya Rp 537.000 per gram.

Saham dan Minyak Jatuh, Harga Emas Naik 1 Persen

Harga emas terus naik ke level tertingginya dalam satu bulan terakhir dan menyentuh level $1.236 per ounce.

Kenaikkan tersebut karena adanya perubahan ekspektasi mengenai Bank Sentral AS (The Fed) akan tak akan tergesa-gesa dalam meningkatkan suku bunganya.

Data menunjukkan bahwa 252 ribu lowongan pekerjaan berhasil dicetak bulan lalu, namun data nonfarm payroll dari Amerika menunjukkan jumlah upah mengalami penurunan terbesar dalam delapan tahun pada bulan Desember. Hal inilah yang dinilai akan membuat The Fed berhati - hati dalam menaikkan suku bunganya.

Penyebab lainnya adalah kejatuhan bursa saham di Eropa dan Amerika karena jatuhnya harga minyak yang menyentuh level terendahnya sejak April 2009 seperti yang dikutip dari Reuters.

Melemahnya harga minyak cenderung ikut melemahkan harga emas karena dapat mengurangi kebutuhan untuk logam mulia sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang dikarenakan harga minyak. Namun kejatuhan harga minyak yang terus menerus kali ini sepertinya justru meningkatkan permintaan emas sebagai lindung nilai sehingga harga emas pun ikut naik.

Harga emas dunia minggu lalu memiliki kenaikan mingguan tertinggi sebesar 2,9% sejak bulan Juni. Harga emas logam mulia Antam pun ikut naik dimana harga emas antam per 12 Januari 2015 harga beli kembali / buy back berada pada level Rp. 493.000 per gram.

Lalu tingginya permintaan oleh Cina dalam rangka menjelang Imlek terhadap komoditas logam seperti emas ikut menaikkan harga emas.

Perak naik 0,4 persen ke level $16,56 per ounce, platina naik 1,1 persen ke level $1.238 per ounce, dan paladium naik hingga 1,1 persen ke level $809 per ounce.

Harga Emas Dunia Sentuh $1.222 per Ounce

Harga emas dunia naik lebih dari 1 persen dan bahkan sempat menyentuh level $1.222 per ounce karena faktor Yunani dan anjloknya harga minyak yang menyentuh level terendah dalam lima setengah tahun.

Berdasarkan Reuters, ketidakpastian politik di Yunani yang akan mengadakan pemilu pada tanggal 25 Januari telah menyebabkan adanya kemungkinan Yunani keluar dari Zona Eropa.

Ketidakpastian itulah yang menyebabkan investor membeli aset yang aman seperti emas.

Untuk perak saat ini naik saat ini naik sebesar 2,3 persen dan berada di posisi $16,51 per ounce.

Sedangkan platina naik sebesar 0,8% dan berada di level $1.214,10 per ounce. Paladium naik 1,2 persen dan berada pada posisi $799,22 per ounce.

Politik Yunani Tak Menentu, Emas Naik

Harga emas dunia saat ini melonjak hingga ke level tertinggi selama tiga minggu terakhir. Hal ini disebabkan investor beralih ke aset aman di tengah aksi jual di saham dan minyak.

Berdasarkan Liputan6, saat ini emas sudah menembus level $1.200 per ounce, serta naik hingga Rp 5.000 per gram dan menjadi salah satu investasi safe haven seiring adanya kekhawatiran baru terhadap utang Yunani.

Selain emas, komoditas lainnya sepert saham, komoditas, dan pasar lainnya juga ikut terpengaruh.

Investor juga menginginkan bank sentral Eropa untuk melanjutkan stimulus ekonomi pada pertemuan bank sentral 22 Januari dan paling lambat Maret.

Jika memang permintaan investor tersebut dikabulkan, langkah itu dapat membuat euro merosot dan membuat emas serta dolar AS terlihat lebih menarik bagi investor.

Banyak analis memperkirakan harga emas dunia tetap turun dalam jangka waktu panjang seiring perbaikan ekonomi Amerika sertan harapan terhadap kenaikan suku bunga AS pada 2015.

Harga Emas Dunia Merangkak Naik Menjelang Imlek

Meski 2014 harga emas dunia ditutup lebih rendah dibanding 2013, harga emas dunia mulai merangkak naik pada awal tahun 2015 meski masih dibayangi penguatan mata uang dollar Amerika.

Penyebabnya adalah China dan Eropa yang menyokong pergerakan harga emas dan menyentuh level hingga $1.199 per ounce.

Berdasarkan Kontan, faktor yang menaikkan harga emas adalah akibat respon dari investor terhadap krisis politik yang terjadi di Yunani.

Saat ini Yunani berpotensi keluar dari Zona Euro dan akan memiliki kebijakan bank sentral yang berbeda dari Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini dapat menurunkan nilai tukar mata uang Euro dan menaikkan harga emas dunia.

Selain itu, permintaan emas dari Cina yang mulai meningkat menyusul perayaan Tahun Baru China atau Imlek juga membantu kenaikan harga emas dunia dalam satu hingga dua bulan mendatang.

Sisi lainnya, kenaikan harga emas ini dilawan oleh index dollar AS masih terus menguat. Saat index dollar AS menguat, maka akan menekan harga emas dunia.

Di dalam negeri, Harga emas logam mulia Antam sendiri saat ini tidak mengalami kenaikan harga dibanding dengan harga sehari sebelumnya.

Tahun 2014 Harga Emas Ditutup Lebih Rendah Dari 2013

Harga emas dunia ditutup melemah pada akhir tahun 2014 karena sebagian besar telah menutup buku.

Berdasarkan Liputan6, harga emas dunia sempat menyentuh level US$ 1.202 per ounce.

Hal tersebut terjadi karena adanya upaya untuk menimbun logam mulia setelah mendapat dana segar sesaat sebelum akhir tahun.

Namun karena banyak yang libur dan aksi borong kian melambat, harga emas tidak melanjutkan penguatannya lagi.

Pada 2013, harga emas ditutup di level US$ 1.205,60 per ounce. Lebih tinggi jika dibanding dengan tahun ini dimana berdasarkan Kitco harga emas dunia ditutup pada level US$1.182,90 per ounce.

Walau ditutup lebih rendah dibandingkan tahun 2013, harga penutupan pada tahun dianggap 2014 cukup baik mengingat banyaknya sentimen negatif yang bergulir pada tahun ini.

Saat ini, per 31 Desember 2014, harga emas logam mulia Antam sendiri sedang melonjak hingga sebesar Rp 9.000 per gram.

Libur Akhir Tahun, Emas Tergerus

Penguatan mata uang dollar AS semakin menekan harga emas dunia saat ini.

Penurunan harga emas dunia ini disebabkan rendahnya permintaan emas sebagai lindung nilai.

Indeks mata uang dolar AS sendiri mampu naik hingga 0,12% terdahap mata uang utama di dunia.

Penurunan harga emas saat ini mencapai 1,1% dimana penurunan ini merupakan penurunan terbesar sejak 22 Desember 2014 lalu. Harga beli kembali / buy back emas Antam sendiri saat ini berada di posisi Rp. 472.000 per gram.

Apabila dihitung sejak akhir September 2014, harga emas sudah turun 2,1% seperti yang dikutip dari Kontan.

Selain dolar, faktor lainnya adalah rendahnya transaksi emas dan perak seiring libur akhir tahun.

Freeport Masih Menjadi Pemegang Tambang Emas Terbesar di Papua

Ada empat perusahaan mineral atau tambang yang telah berhasil menemukan cadangan emas luar biasa besar di tanah Papua yang bahkan setara dengan cadangan emas milik Newmont di Batu Hijau.

Meski begitu, cadangan emas tersebut belum bisa mengalahkan cadangan emas milik PT Freeport Indonesia di Papua seperti dikutip dari Detik.

Menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, R Sukhyar , tambang emas Freeport di Papua merupakan salah satu tambang yang terbesar di dunia dimana berada di 4.000 meter diatas permukaan laut dan mempekerjakan lebih dari 30.000 orang.

Meski harga emas dunia pada 2015 diprediksi sentuh US$1.050 per ounce, Freeport saat ini sedang membangun tambang bawah tanah (underground). Hal ini dikarenakan tambang terbuka (open pit) sudah mulai habis cadangan emasnya.

2015 Emas Diprediksi Sentuh US$ 1.050 per unce

Sepanjang tahun 2014, harga-harga komoditas seperti logam dan minyak dunia mengalami pelemahan yang cukup signifikan.

Berdasarkan Liputan6, harga minyak terus turun hingga menyentuh level US$ 60 per barel dimana angka ini merupakan level terendah sejak Desember 2009.

Tingginya pasokan komoditas logam dan minyak disertai dengan rendahnya harga jual akan menjadi hantaman bagi bisnis komoditas tahun depan 2015.

ANZ melakukan riset terhadap bisnis komoditas, berikut beberapa diantaranya:

1. Pasokan Batu Bara Berlebih
Harga batu bara diprediksi akan melemah pada 2015 meskipun harga batu bara masih bergerak stabil.

Saat ini harga batu bara berkualitas tinggi telah mencapai US$ 126 per ton sepanjang 2014, turun 21 persen dari tahun sebelumnya dan diperkirakan terus melemah hingga US$ 120 per ton pada 2015.

2. Rendahnya Harga Minyak dan Gas
Akan ada pemangkasan produksi pada kuartal ketiga 2015 bagi para produsen non-OPEC.

Hingga waktu tersebut artinya pasokan minyak yang berlebih terus berlangsung.

Harga minyak dunia diperkirakan akan turun hingga 30 persen sepanjang 2015. Harga minyak yang murah juga akan menekan harga gas.

3. Harga Emas Sentuh Level US $1.050 per Ounce
Harga emas dunia sempat menyentuh level terendah pada November tahun 2014 ini.

Hal tersebut dikarenakan emas yang biasanya digunakan sebagai nilai lindung diabaikan para investor yang lebih tertarik menyimpan dollar Amerika yang sedang mengalami penguatan.

Saat ini harga emas dunia sedang tertekan pada penguatan mata uang dollar Amerika dan Goldman Sachs memprediksi penurunan harga emas dunia akan menyentuh level US$ 1.050 per ounce pada Desember 2015.

Keputusan ada ditangan anda apakah tahun 2015 merupakan waktu yang tepat untuk berburu emas.
Situs kami dapat bertahan dengan adanya iklan yang tayang.
Mohon matikan ad blocker Anda untuk membantu biaya operasional kami.